PERANAN BAKTERI

Thursday, August 24, 2006

Anthrak Sebagai Senjata Biologi

BAKTERI ANTHRAK (BAG.1)

Antraks, Bakteri Tahan Kondisi Kering

KEHADIRAN kuman/bakteri antraks (Bacillus anthracis) di lingkungan manusia bukan hal yang aneh. Sejak ratusan tahun lalu, kuman ini umum ditemukan pada air, tanah, daun-daunan, dan sebagainya, kemudian menjadi "bibit" penyakit pada hewan ternak dan hewan liar lainnya, yang ujung-ujungnya juga pada manusia.

Sejak awal tahun 1800-an, terjadi kepanikan di lingkungan para peternak di Eropa dan Asia dengan penyakit yang diderita ternaknya seperti sapi. Mula-mula, suhu badan sapi meninggi, kemudian sesak napas dan detak jantungnya menjadi berkurang atau melemah, kemudian kejang-kejang dan akhirnya mati.

Sejak tahun 1850, kehadiran kuman antraks telah diketahui pakar penyakit hewan terkenal di Eropa, Dr. Rayer dan Dr. Davaint dari gumpalan darah hewan yang terkena. Kemudian setelah mikroskop ditemukan, pakar bakteri antara lain penemu kuman penyebab penyakit TBC, Robert Koch pada tahun 1877 mengetahui bentuk dan sifat-sifat kuman antraks dan sebagainya, antara lain kalau "biakan" kuman tersebut disuntikkan pada ternak lain, ternak tersebut akan sakit dan kemudian mati.

Di lingkungan lembaga/pusat penelitian penyakit hewan ataupun manusia, kuman antraks, dikenal sebagai kuman/bakteri gram positif, ukuran sel antara 1 x 3-4 mikron (1 mikron = 1/1.000 cm), memiliki ujung berbentuk empat persegi, tersusun dalam bentuk rantai panjang, memiliki spora (seperti biji pada buah) di bagian tengah sel yang tidak bergerak.

Kuman ini dikenal luas sebagai penyebab penyakit pada biri-biri, sapi, kuda, kerbau dan sebagainya, serta beberapa binatang berdarah panas lainnya, termasuk beberapa jenis binatang liar, seperti kucing, harimau, gajah, dan sebagainya. Ternyata manusia juga dapat menjadi sakit kalau dikenai kuman ini, terutama dalam bentuk spora yang mengenai luka, goresan kulit, alat pernapasan, dan sebagainya.

Bagian yang paling tahan dari sel antraks terhadap keadaan lingkungan terutama suhu dan kelembaban adalah spora. Karena sifat spora antraks dikenal sangat tahan terhadap kekeringan, kelebihan air, panas tinggi, juga dingin yang rendah. Seperti misalnya dengan panas antara 60 - 70 oC (misal pada tanah pasir musim kemarau panjang di kawasan Nusa Tenggara Timur) mikroba lain akan mati. Tapi berbeda dengan spora antraks, akan tetap dapat hidup.

Bahkan yang paling mengkhawatirkan adalah, kalau seandainya daging sapi atau kambing yang dikenai antraks kemudian dijadikan sate setengah matang. Maka besar kemungkinan sporanya akan dapat bertahan, kemudian hidup pada tubuh pemakannya dan menyebabkan sakit.

Hewan berdarah panas

Antraks mula-mula dikenai sebagai penyebab penyakit pada hewan berdarah panas seperti sapi, domba, kuda, babi, anjing, kucing, rusa, harimau, gajah, dengan nama radang limpa, miltvuur, milzbrand, charbon, dan sebagainya termasuk sebagai zoonosis, yaitu penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia, atau sebaliknya.

Dalam sejarah penyakit, antraks ditemukan di seluruh dunia, yaitu di Benua Asia, Afrika, Australia, Eropa Selatan, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Sehingga dengan kenyataan ini, bukan kuman aneh atau apalagi asing bagi kawasan di semua benua, serta menjadi penyebab penyakit yang mendatangkan kerugian di mana-mana untuk hewan ternak serta hewan lainnya yang sudah dikenai, dan dapat menular kepada manusia.

Lantas, bagaimana kehadiran kuman antraks di Indonesia, serta sampai berapa jauh kerugian yang dapat ditimbulkan, terutama untuk dunia peternakan? Berita pertama tentang berjangkitnya antraks pada sapi dikabarkan Javasche Courant tahun 1884. Saat itu terjadi di daerah Teluk Betung, Lampung, dengan banyak hewan ternak, terutama sapi dan biri-biri yang dikenai "penyakit aneh", yang sekarang dikenal dengan nama antraks. Kemudian penyakit tersebut menyebar ke beberapa daerah, terutama di kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya seperti yang diberitakan Kolonial Verslag tahun 1886 - 1887.

Padahal sebelumnya, wabah penyakit hewan seperti itu belum diketahui ada di kawasan Indonesia. Kalaupun ada yang memiliki gejala mirip, pada akhirnya diketahui bukan penyakit yang disebabkan antraks. Tapi hasil pencarian dan pengumpulan data terkait dengan penyakit antraks, terutama terhadap hewan ternak dilakukan secara menyeluruh, maka sejak 1906 banyak kawasan penggembalaan ataupun sebagai tempat penangkaran hewan ternak dan hewan liar. Penyakit tersebut secara menyeluruh berada di beberapa daerah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, sampai ke tempat-tempat lainnya yang terpencil di Jambi, Jawa Barat, NTT, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, serta beberapa daerah kecil lainnya.

Ternyata daerah-daerah tersebut merupakan "kantong-kantong" penyebaran antraks yang sewaktu-waktu dapat menjadi pusat ledakan wabah untuk daerah sekitarnya. Karena itulah, maka Dinas Peternakan di semua daerah mencatat, meneliti, dan mengamati, kalau sewaktu-waktu di daerahnya mulai ada tanda/indikasi wabah tersebut. Kemudian agar sedini mungkin dapat diketahui, diatasi, atau dibatasi penyebarannya.

Sudah diketahui sejak lama, daerah-daerah pertanian, apalagi karena di setiap daerah tersebut juga menjadi daerah peternakan menjadi kawasan yang banyak ditumbuhi kuman antraks. Spora antraks yang semula berada di timbunan tanah, kalau kemudian tanahnya digarap untuk budi daya tanaman, akan berpindah tempat dan muncul ke permukaan. Apalagi kalau permukaan tanah tersebut lembap atau basah dan sering banjir misalnya. Maka akan terjadi perpindahan spora antraks dari daerah satu ke daerah lainnya dengan cepat.

Kalau kemudian spora yang sudah berada di permukaan tanah atau di dalam air terminum hewan seperti kerbau, sapi, domba, atau kambing, wujud spora tersebut akan cepat berubah menjadi wujud vegetatif atau bentuk sel, akan cepat membanyak (berkembang biak) dan kemudian memperlihatkan keganasannya. Hewan yang terkena akan sakit dan cepat mati kalau lingkungannya mendukung dan tidak segera diobati.

Hal yang sama akan terjadi, kalau spora antraks menempel pada daun rumput atau tanaman lainnya, kemudian tertelan binatang. Maka dengan cepat pula spora akan berubah wujud menjadi sel, membanyak dengan cepat, kemudian akan menyebabkan binatang yang terkena akan sakit dan seterusnya mati. Semua hewan yang dikenai penyakit antraks, bagian-bagian badannya penuh luka dan pada akhirnya membusuk pada seluruh tubuhnya. Maka pada saat itulah, bibit kuman antraks akan menyebar, apakah melalui tanah tempat bangkai hewan tersebut mati atau terbawa air ataupun terbawa benda-benda lainnya, termasuk terbawa debu yang dapat diterbangkan ke mana saja sesuai dengan arah angin.

Membentuk spora

Bibit kuman dalam wujud sel yang jatuh ke tanah yang berkondisi kering, temperatur tinggi, umumnya akan mati. Tetapi secara umum dan alamiah, sel antraks memiliki cara untuk mempertahankan diri kalau lingkungannya tidak mendukung, yaitu dengan membentuk spora. Sifat spora inilah yang akan tahan kekeringan dan temperatur tinggi. Bahkan hingga 10-15 tahun kemudian masih dapat hidup kembali kalau lingkungannya mendukung.

Karena dari spora yang kemudian berkecambah membentuk jasad baru, segala kehidupan kuman ini akan berjalan kembali seperti semula, antara lain kalau ada kesempatan menyebabkan sakit bukan hanya kepada hewan, tetapi juga kepada manusia.

Manusia terkena antraks bisa melalui berbagai cara, baik makanan misal daging yang sudah terkontaminasi kuman antraks, melalui air, ataupun melalui badan/bahan lainnya. Kuman antraks akan menimbulkan suatu infeksi kulit, yang umum menurut istilah kedokteran disebut fustula ganas. Yaitu mula-mula akan timbul papula dalam waktu 12-36 jam setelah kuman tersebut memasuki bagian tubuh, atau melalui goresan/luka. Papula dengan cepat akan berubah menjadi vesikel, kemudian fustula, dan diakhiri dengan ulkus nekrotik. Infeksi akan dapat menyebar luas, seperti menimbulkan septikemia.

Tanda-tanda yang umum kalau seseorang terserang kuman antraks, antara lain diawali dengan kenaikan temperatur tubuh, demam-demam (misal temperatur badan tiba-tiba naik menjadi 40 - 41,5 oC), menjadi gelisah diikuti depresi, stupor. Bahkan tidak jarang menjadi sesak/susah bernapas, detak jantung melemah, disusul dengan kejang-kejang. Kalau kemudian tidak mendapatkan pertolongan secara cepat dan benar, akan diakhiri dengan kematian. Derajat kematian akibat serangan kuman antraks, apalagi katanya yang sudah direkayasa sebagai "senjata kuman" mencapai 90% -100%. Sungguh mengerikan.

Banyak cara untuk memberikan pertolongan kepada seseorang yang "disangka" terkena serangan kuman antraks. Apalagi sekarang, karena kuman antraks lebih umum dan banyak digunakan sebagai senjata pemusnah kehidupan dan peradaban manusia, baik dalam peperangan ataupun dalam keadaan damai yang bertujuan hanya untuk membuat panik kelompok masyarakat saja. Seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat, pascahancurnya gedung kembar WTC di New York, 11 September 2001.

Sejak lama sudah diketahui obat yang dianggap mujarab untuk mengatasi dan mengobati penyakit yang disebabkan kuman antraks adalah antibiotika, terutama penisilin. Penisilin dalam dosis (takaran) sedang, hasilnya memuaskan. Kecuali kalau akibat serangan kuman antraks menyebabkan penyakit pernapasan karena mortalitas cukup tinggi. Pengobatan antraks menggunakan penisilin harus dilakukan sedini mungkin, kalau hasilnya diharapkan baik.

Ketakutan demi ketakutan yang terus menerus menghantui kehidupan masyarakat kota-kota besar di AS sekarang, adalah kalau satu saat "teroris" menyebarkan kuman antraks melalui udara, melalui makanan, melalui air dan melalui apa saja yang memungkinkan, dan sekarang baru melalui serbuk di dalam amplop surat.

Seperti dua pekan setelah runtuhnya gedung kembar WTC, pihak penguasa kota New York terpaksa harus menutup dan mengosongkan 16 buah stasiun kereta bawah tanah karena penumpang di jalur yang dilalui terserang pusing-pusing, iritasi mata yang menyebabkan kesakitan, termasuk di antaranya dua orang petugas kepolisian yang segera harus dilarikan ke rumah sakit, karena kondisinya lebih gawat. Setelah seluruh jalur termasuk stasiun dan perangkat lainnya, didekontaminasi (dihilangkan sumber penyebabnya), jalur tersebut dibuka kembali, juga setelah ada laporan dokter yang memberikan bantuannya, semua penderita normal kembali.

Apakah penyebabnya kerena kuman antraks ataupun kuman lainnya yang umum digunakan sebagai senjata kuman, belum diketahui secara pasti. Karena dari sekian banyak kuman, seperti antraks (Bacillus anthracis), ko-lera (Vibrio cholerae), tifus (Salmonella typhi) dan pes (Pasteurella pestis), kuman yang paling banyak digunakan, serta telah menjadi komoditi bisnis maha besar adalah kuman antraks, yang memiliki nilai kematian antara 90%-100%, kalau tidak secepatnya diobati. Sedangkan kuman lainnya hanya antara 10%-80%, kecuali pes (30%-100%) sebagai senjata kuman kedua setelah antraks.

Warga AS semakin cemas mengenai kuman antraks tersebut setelah membaca laporan kasus Sverdlovsk, Rusia, tahun 1979. Yaitu pada saat yang bersamaan seluruh penduduk kota tersebut diserang penyakit flu. Tak lama kemudian, 66 orang di antaranya meninggal dunia. Berkat ketelitian dan kerja-keras Dr. Matthew Neselson, mikrobiolog dari Universitas Harvard, yang selama lebih kurang 13 tahun melacak dan meneliti "penyebab" kematian tersebut, pada akhirnya diketemukan kaitan yang erat dengan adanya "pabrik" pembuatan senjata biologi kuman antraks yang letaknya berdekatan. Apalagi ketika diketahui, di desa-desa yang berdekatan dan berjarak sekira 30 km dari pusat pabrik, banyak ditemukan hewan ternak yang menjadi korban kematian, seperti diberitakan The Washington Post, Selasa (9/10/2001).

Menurut perhitungan yang akurat, dari 1 gram "tepung" spora antraks, akan ditemukan sekira 1 triliun (1.000.000.000.000) spora, atau cukup untuk menyebabkan sakit beberapa ratus atau mungkin ribuan hewan temak ataupun manusia, kalau lingkungannya membantu, yaitu lingkungan fisik (temperatur), lingkungan kimia (kelembaban) dan lingkungan biologisnya sendiri (jumlah spora per gram dan keganasan spora tersebut).


BAKTERI ANTHRAK (BAG.2)

Bakteri Anthrak Sebagai Senjata Biologi

Penyakit anthrax merupakan penyakit menular yang umumnya menyerang hewan (herbivora) tetapi dapat juga menyerang manusia, walaupun sangat jarang. Anthrax pada manusia selalu biasanya terjadi karena adanya wabah pada hewan ternak. Angka resiko terinfeksimya manusia berkisar 1/100.000 dan sebagian besar menginfeksi kulit (Cutaneous anthrax) (Kenneth,1999).

Oleh karena jarangnya penyakit ini pada manusia menyebabkan lemahnya sektor medis dalam mendeteksi secara dini (early detection) gejala penyakit dan melakukan pengobatan yang tepat (prompt treatment) sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan yang dapat menyebabkan bertambah beratnya penyakit yang berakibat pada kematian. Dalam upaya untuk memberantas penyakit ini perlu dilakukan sosialisasi mengenai gejala klinis dan pengobatan dan pencegahan penyakit anthrax bagi tenaga medis khususnya yang berada di wilayah endemis.

Bakteri anthrax menjadi momok di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang, setelah digunakan sebagai senjata biologi. Bakteri anthrax ini menjadi pembicaraan hangat pada tahun 2003, setelah beberapa kali kantor kongres di AS menerima surat berisi bubuk.

Sejarah Anthrax
Catatan pertama tentang penyakit ini ditemukan pada jaman Mesir kuno. Studi sistematis dimulai akhir pada abad 19 oleh Robert Koch (seorang ahli bakteriologi dari Jerman) dan Louis Pasteur (seorang ahli immunologi dari Perancis). Pada tahun 1877 Koch berhasil membiakkan kultur murni Bacillus anthracis dan membuktikan bakteri ini sebagai penyebab penyakit anthrax dengan menyuntikkannya pada hewan percobaan pada tahun.

Pada tahun 1881, Pasteur berhasil menemukan cara pencegahan penyakit anthrax dengan menciptakan vaksin dari Bacillus anthracis. Imunisasi pertama dengan vaksin tersebut dilakukan di depan umum di Pouilly Le Front, Perancis.
Di Indonesia, penyakit ini menjadi endemik sejak abad 19. Pada tahun 1884 diberitakan tentang penyakit yang menyerupai anthrax di daerah Teluk Betung. Pada tahun 1885, dilaporkan adanya penyakit anthrax di Buleleng (Bali), Palembang dan Lampung. Pada tahun 1886, penyakit ini berjangkit di Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Sejak tahun 1899 hingga 1930, tercatat kejadian-kejadian Anthrax di beberapa daerah Jawa dan luar Jawa.
Beberapa daerah di Jawa Barat yaitu Bogor, Purwakarta, Kerawang dan Serang ditetapkan sebagai daerah endemis karena di daerah itu terdapat spora anthrax yang bisa menular pada hewan dan manusia yang tinggal di daerah itu.

Pada tahun 1997, penduduk Jakarta dan beberapa kota lain kembali resah dengan penyakit anthrax yang sumber penularan diperkirakan berasal dari daging sapi yang diimport dari Australia. Untuk melindungi konsumen Dirjen Peternakan sempat mengeluarkan larangan sementara import daging dari Australia sampai situasi benar-benar aman.

Anthrax kembali berjangkit di Indonesia pada tahun 2000. Kali ini yang diserang adalah peternakan burung unta (Struthio camelus) di Purwakarta, Jawa Barat. Bakteri Anthrax biasanya ditemukan di negara berkembang atau negara yang tidak menerapkan sistem kesehatan veteriner yang baik.

Namun berita gembira datang pada tahun 2003 yaitu sekelompok ilmuwan dari Boston berhasil membuat vaksin yang memberikan pencegahan secara simultan yaitu melindungi tubuh dari serangan bakteri anthrax sekaligus racun yang ditimbulkannya.
Tata laksama penyakit anthrax

Anhtrax adalah penyakit hewan yang dapat menular pada manusia dan bersifat akut. Penyebabnya adalah bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini berbentuk batang (ruas-ruas) dengan ukuran panjang 3-8 micrometer. Bakteri ini bersifat aerob dan memerlukan oksigen untuk hidup. Di alam bebas bakteri ini berbentuk spora yang tahan hidup puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia.

Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung dengan spora yang ada di tanah dan tanaman ataupun bahan dari hewan yang sakit (kulit, tulang, daging atau darahnya).Anthrax umumnya menyerang hewan vertebrata liar dan hewan piaraan seperti kambing, domba, unta, dan burung unta.

Penyakit anthrax bisa menyerang manusia melalui tiga jalan: kulit, pernafasan dan pencernaan. Manusia bisa terinfeksi anthrax karena mengkonsumsi daging hewan yang terkontaminasi bakteri anthrax yang tidak dimasak dengan sempurna.
Masa inkubasi anthrax biasanya 7 hari. Gejala pertama yang timbul adalah jaringan kulit yang rusak, demam, kelelahan, sakit tenggorokan, dan sakit otot. Dalam beberapa hari gejala ini akan diikuti dengan gangguan pernafasan yang parah, shock atau bahkan meningitis (radang selaput otak). Lebih dari 20% orang yang terkena anthrax akan meninggal apabila tidak tertangani dengan baik.

Manifestasi penyakit anthrax ada 3 bentuk yaitu :

1. Anthrax kulit, bila penularan melalui kulit atau selaput lendir. Timbul bercak kemerahan pada daerah kulit kemudian berubah menjadi bintil atau benjolan yang berair dengan warna ungu kehitaman di bagian tengahnya. Bintil ini akan mengalami necrosis dan pecah. Kulit di sekitarnya membengkak dan muncul bintil-bintil baru. Diikuti dengan membesarnya kelenjar getah bening di sekitarnya. Penderita mengalami lesu, demam, sakit kepala, mual dan muntah. Bila kuman sudah menjalar melalui pembuluh darah maka akan terjadi demam.

2. Anthrax paru-paru, bila penularan melalui pernafasan. Penerita akan mengalami demam, sakit kepala, lemah dan sesak nafas. Pada pemeriksaan paru-paru akan ditemukan kasus pneumonia.

3. Anthrax sepsis, merupakan kelanjutan dari kedua jenis penyakit anthrax di atas atau kadang terjadi tanpa melalui tahapan tersebut. Penderita berkeringat, sianosis dan shock. Pada beberapa kasus menyebabkan radang selaput otak (Meningitis hemorhagika)

Diagnosa penyakit anthrax ditegakkan melalui foto rontgen dan uji laboratorium. Pemyakit dipastikan dengan ditemukannya bakteri atau sporanya di dalam dahak atau darah penderita selain ditemukan kelainan kulit pada pemeriksaan laboratorium.
Cara pencegahan penyakit anthrax dengan menvaksinasi hewan telah diresmikan pada tahun 1970. Vaksin terdiri dari enam dosis, tiga dosis pertama diberikan dengan interval dua minggu, tiga dosis berikutnya diberikan dalam 6, 12 dan 18 bulan setelah dosis pertama. Dosis tambahan diberikan setiap tahun untuk perlindungan terus-menerus.

Antibiotik yang bisa diberikan untuk penyakit anthrax adalah penicillin, doxycycline, fluoroquinoloness, doxycycline dan ciprofloxacin. Demam diusahakan diturunkan dengan kompres dingin atau pemberian obat penurun panas.
Cara pencegahan menyebarnya penyakit adalah dengan memusnahkan hewan yang diduga terjangkit penyakit itu, menghindari bersentuhan dengan bagian-bagian atau produk dari hewan sakit tersebut dan menghindari menghirup spora anthrax misalnya dengan menggunakan masker.

Pencegahan wabah anthrax

Anthrax menjadi mengejutkan karena selalu diikuti dengan korban manusia. Korban biasanya berasal dari masyarakat “bawah”. Orang Indonesia adalah yang terendah mengkonsumsi daging di Asia. Namun pengawasan terhadap kualitas daging yang dijual sangat rendah, atau orang tidak mengindahkan peringatan yang diberikan.

Untuk mencegah penyebaran anthrax diperlukan pengawasan khusus yaitu sebagai berikut :
1. Wajib lapor pada kantor dinas setempat bila terjadi wabah.
2. Segera dilakukan karantina yang ketat pada daerah endemik.
3. Hewan yang mati segera dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur dalam-dalam.
4. Memusnahkan bahan-bahan yang terkontaminasi dengan bakteri dengan membakarnya.
5. Memisahkan hewan yang sakit dan hewan yang sehat.
6. Desinfeksi kandang, kurungan, gudang susu dan peralatan yang digunakan di tempat peternakan.
7. Gunakan insektisida untuk membersihkan sekitar kandang ternak.
8. Awasi hewan agar tidak memakan hewan yang mati akibat penyakit anthrax.
9. Melakukan prosedur kebersihan umum dalam menangani hewan yang sakit.
10. Berikan penerangan dan pendidikan pada masyarakat tentang bahayanya pemotongan hewan terhadap anthrax.
11. Pengawasan ketat terhadap lalu lintas hewan.
12. Untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu negara ke negara lain, maka World Health Organization (WHO) mensyaratkan sterilisasi kulit, bulu dan wol yang akan masuk ke negara lain.
13. Memperhatikan kebersihan makanan.

Bakteri anthrax sebagai senjata biologi

Senjata biologi adalah makhluk hidup biasanya bakteri, virus, jamur atau racun yang diproduksi oleh organisma hidup, yang digunakan untuk menyerang lawan. Senjata biologi tidak langsung meluluh-lantakan fisik korban, tetapi menyerang sistem kekebalan tubuh korban dari dalam. Senjata biologi ini sangat berbahaya karena kehadirannya tidak dapat dipantau oleh panca indra.
Bakteri anthrax termasuk yang paling popular dan sering digunakan sebagai senjata biologi. Padahal ada jenis mikroorganisma lain yang mempunyai efek mengerikan jika digunakan sebagai senjata biologis. Bakteri anthrax dapat membentuk spora yang tahan terhadap kekeringan, cahaya ultra violet, radiasi sinar gama, dan berbagai disinfektan. Spora bakteri ini pun dapat hertahan di tanah selama puluhan tahun. Penelitian mengenai bakteri anthrax sebagai senjata biologi telah dimulai sejak 80 tahun yang lalu.

Beberapa peristiwa yang menggunakan bakteri anthrax sebagai senjata biologi adalah pada tahun 1995, serangan kelompok Aum Shinrikyo terhadap stasiun kereta api bawah tanah di Tokyo menggunakan spora anthrax dan botulism. Namun serangan tersebut gagal menimbulkan penyakit. Sepanjang oktober hingga desembar 2001, bakteri anthrax digunakan untuk menyerang sejumlah kantor media massa dan gedung kongres AS sehingga menyebabkan kematian 5 orang dan sakit 13 orang. Bakteri dalam bentuk bubuk tersebut dikirim melalui amplop surat.

Tidak banyak negara yang mampu membuat bakteri atau bakteri sebagai senjata biologi karena melibatkan tehnologi canggih. Pada tahun 1979, di negara yang dahulu bernama Uni soviet pernah terjadi kecelakaan di laboratorium pembuatan senjata biologi yang merenggut kematian 68 orang dan 79 orang terinfeksi.

Keampuhan bakteri anthrax sebagai senjata biologi dapat digambarkan sebagai berikut. Bila 50 kg spora anthrax disebarkan melalui pesawat di kota yang berpenduduk 5 juta orang, maka 100.000 manusia akan mati dan 250.000 manusia terinfeksi.

Cara bakteri anthrax bekerja sebagai senjata biologi adalah sebagai berikut. Spora bakteri anthrax dalam bentuk bubuk atau dalam kemasan aerosol disebar. Spora akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, pencernaan atau kulit. Spora akan tumbuh menjadi bentuk vegetatif pada lingkungan yang kaya akan asam amino, nukleosid dan glukosa, seperti dalam darah dan jaringan manusia atau hewan. Bakteri vegetatif ini akan mengeluarkan racun yang menyebabkan perdarahan, edema (pengumpulan cairan) dan kematian sel yang berakibat kepada kematian. Bergantung kepada cara masuk bakteri ke dalam tubuh korban, bakteri anthraks dapat mematikan korbannya dalam waktu 1-7 hari. Jika masuk melalui kulit, memberikan efek yang paling ringan. Bakteri yang masuk melalui pernafasan dapat mematikan korban 2-3 hari. Hingga saat ini belum ada tehnologi yang dapat mendeteksi adanya senjata biologi, karena sulit terpantau oleh panca indera. Biasanya keberadaannya baru diketahui setelah jatuh korban.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home