PERANAN BAKTERI

Thursday, August 24, 2006

Bakteri Penyebab Tetanus

BAKTERI PENYEBAB TETANUS (BAG.1)

Penyebab, Gejala Dan Pengobatannya

Apa yang menyebabkan infeksi tetanus? dr Moh Arif Hariyanto SpB, menjelaskan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf.

Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi, narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteria tetanus. Tidak hanya itu, lubang pada gigiyang tak dibersihkan secara steril pun dpun dapat menjadi biang perkembangan bakteri tetanus.

Bakteri bersifat an-aerob clostridium tetani yang mana sporanya ini dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia, bisa terjadi infeksi baik pada luka yang dalam maupun luka yang dangkal, setelah proses persalinan, bisa terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (tetanus neonatorum) yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.

Gejala-gejala biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. "Gejala yang paling sering ditemukan adalah kekakuan rahang. Yang lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, kejang otot dan kaku kuduk, lengan serta tungkai. Hanya 2 cm saja, rasanya sakit," ungkap Arif.

Kejang otot rahang yang dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut ini bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

Penderita bisa mengalami kesulitan dalam membuka rahangnya (trismus). Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat.

kekakuan atau kejang otot-otot perut, leher dan punggung bisa menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah bisa menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.

Hal tersebut juga menyebabkan gangguan pernafasan sehingga terjadi kekurangan oksigen. Kondisi seperti inilah yang biasanya tak dapat lagi diberikan pertolongan, karena kematian siap merenggut jika terjadi serangan pada syaraf ini.

Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 smapai 10 tahun : 25, 30, 35 dan seterusnya. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.

Untuk menetralisir racun, diberikan immunoglobulin tetanus antibiotik tetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut. Obat lainnya bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang dan mengendurkan otot-otot. Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan.

Makanan diberikan melalui infus atau selang nasogastrik untuk membuang kotoran, dipasang kateter. Penderita sebaiknya berbaring bergantian miring ke kiri atau ke kanan dan dipaksa untuk batuk guna mencegah terjadinya pneumonia.

Untuk mengurangi nyeri diberikan kodein. Obat lainnya bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung.

Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

BAKTERI PENYEBAB TETANUS (BAG.2)

Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri anaerob Clostridium tetani. Spora dari Clostridium tetani dapat hidup selama bertahun-tahun di dalam tanah dan kotoran hewan. Jika bakteri tetanus masuk ke dalam tubuh manusia akan terjadi infeksi, baik pada luka yang dalam maupun pada luka yang dangkal. Selain itu, setelah proses persalinan, bisa juga terjadi infeksi pada rahim ibu dan pusar bayi yang baru lahir (disebut dengan tetanus neonatorum). Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, bukan dari bakteri itu sendiri.

Gejala-gejala tetanus biasanya muncul dalam waktu 5-10 hari setelah terinfeksi, tetapi bisa juga timbul dalam waktu 2 hari atau 50 hari setelah terinfeksi. Gejala yang paling umum terjadi adalah kekakuan pada rahang. Gejala lainnya berupa gelisah, gangguan menelan, sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, serta kejang otot, lengan, dan tungkai. Kejang pada otot-otot wajah menyebabkan ekspresi penderita seperti menyeringai dengan kedua alis yang terangkat. Kekakuan atau kejang pada otot-otot perut, leher, dan punggung dapat menyebabkan kepala dan tumit penderita tertarik ke belakang, sedangkan badannya melengkung ke depan. Kejang pada otot sfingter perut bagian bawah akan menyebabkan sembelit dan tertahannya air kemih.

Gangguan-gangguan dari luar yang ringan, seperti suara berisik, aliran angin atau goncangan, dapat memicu kekejangan otot yang disertai nyeri dan keringat yang berlebihan. Selama terjadinya kejang di seluruh tubuh, penderita tidak dapat berbicara karena otot dadanya kaku atau terjadi kejang pada tenggorokan. Hal tersebut menyebabkan gangguan pernafasan sehingga penderita akan kekurangan oksigen. Tetanus biasanya terbatas pada sekelompok otot di sekitar luka. Kejang di sekitar luka itu bisa menetap selama beberapa minggu.

Pengobatan tetanus dilakukan dengan cara menetralisir racun, yaitu dengan cara diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik tetrasiklin dan penisilin biasanya diberikan untuk mencegah pembentukan racun lebih lanjut. Obat lainnya juga bisa diberikan untuk menenangkan penderita, mengendalikan kejang, dan mengendurkan otot-otot.

Penderita biasanya dirawat di rumah sakit dan ditempatkan dalam ruangan yang tenang. Untuk infeksi menengah sampai berat, mungkin perlu dipasang ventilator untuk membantu pernafasan. Obat tertentu bisa diberikan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung. Setelah sembuh, harus diberikan vaksinasi lengkap karena infeksi tetanus tidak memberikan kekebalan terhadap infeksi berikutnya.

Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Sedangkan pada dewasa, sebaiknya menerima booster. Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi

Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.
Perlu diketahui, tetanus memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian tersebut biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda, sangat tua, dan pemakai obat suntik. Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan yang mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.


BAKTERI PENYEBAB TETANUS (BAG.3)


Tetanus Serang Manusia dan Hewan

Pada minggu pertama dan kedua pascagempa dan tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, diberitakan kasus tetanus pada manusia cukup menonjol. Sebagian dari mereka yang terlambat ditangani bahkan meninggal dunia. Meskipun tetanus termasuk penyakit lama, pada kondisi atau kejadian tertentu dapat menimbulkan angka kematian (mortality rate) cukup menonjol.

Tahun lalu terjadi kejadian tragis menimpa seorang dokter hewan di Karangasem, Bali. Ketika sedang menangani seekor pasien sapi sakit (bukan tetanus), dokter hewan tersebut terkena tendangan sapi dan menimbulkan luka pada anggota tubuhnya. Menyadari bahaya tetanus, dokter hewan tersebut segera pergi ke rumah sakit dan mohon pengobatan. Akibat kelangkaan penangkal tetanus di rumah sakit, dokter hewan tersebut akhirnya meninggal dunia, meskipun upaya pengobatan telah dilakukan secara dini.

Kasus tetanus kadang-kadang ditemukan pada hewan, terutama kuda dan monyet, meskipun jenis hewan lain termasuk hewan liar dapat terserang.

Untuk mewaspadai bahaya tetanus, kita perlu mengetahui sekilas penyakit ini sehingga kejadian fatal pada manusia maupun hewan (kesayangan) dapat dihindari.

Bakteria yang bernama Clostridium tetani (Cl tetani), penyebab penyakit tetanus, ditemukan oleh Nicolaier (1884), sedangkan racun eksotoksin yang diproduksi bakteri tersebut ditemukan Behring dan Kitasato (1890). Bakteri ini berbentuk batang dan dapat membentuk spora sehingga amat tahan terhadap pengaruh lingkungan. Umumnya bentuk spora bakteri ini ada di tanah atau pada tinja berbagai jenis hewan. Di dalam tanah atau tinja, spora bakteri ini dapat tahan hidup beberapa bulan, namun sinar matahari secara langsung dapat membunuh spora dalam 12 hari.

Berbagai jenis hewan membawa bakteri ini di dalam ususnya tanpa menderita sakit. Penelitian lama menggambarkan bahwa bakteri ini dapat ditemukan pada 15 persen dari tinja 53 kuda, 19 persen dari 21 sapi, 26 persen dari 23 domba, 46 persen dari 37 anjing, 37 persen dari 141 tikus, dan 18 persen dari 34 unggas. Angka ini menggambarkan cukup banyak hewan bertindak sebagai pembawa bakteri ini, sehingga potensi untuk menularkan penyakit cukup besar.

Pada hewan yang dikandangkan, beberapa jenis desinfektansia seperti larutan carbolic acid 50 persen, mercuric chloride 1 persen, HCl 1 persen, dan kreolin 5 persen dapat dipergunakan untuk membunuh Cl tetani.

Untuk berkembang biak, bakteri ini memerlukan kondisi anaerob (tanpa oksigen). Oleh karena itu, luka kecil namun cukup dalam, misalnya akibat tusukan paku tercemar bakteri penyebab tetanus, sangat berpotensi menimbulkan penyakit. Di tempat luka, spora bakteri berubah menjadi bentuk vegetatif dan mulai memproduksi racun. Bentuk vegetatif Cl tetani dalam tubuh hewan dan manusia relatif mudah dibunuh dengan antibiotika. Namun, bakteri ini diketahui mampu memproduksi racun eksotoksin yang mempunyai daya rusak lebih hebat dari bakterinya sendiri.

Dikenal dua jenis eksotoksin yang dihasilkan Cl tetani, yakni tetanospasmin yang menyerang jaringan saraf sehingga menimbulkan gejala kejang (spasmus), dan tetanolysin yang menyebabkan pecah (lysis)-nya butir darah merah. Dari tempat luka racun tersebut akan merambat lewat saraf ke spinal cord (saraf tulang punggung). Sebagai akibat dari racun tersebut timbullah kekejangan di berbagai organ tubuh. Perlu waktu 4-10 hari sejak bakteri masuk ke tubuh sampai terjadi gejala kejang-kejang. Sebenarnya kondisi demikian sudah pada tahap lanjut dari penyakit. Kalau tidak segera ditolong, maka (pada hewan) umumnya paru akan kelelahan dan terjadi gagal napas (respiratory failure) yang berakibat kematian.

Masuk lewat luka

Bakteri penyebab tetanus masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia lewat luka pada kulit. Dari layar TV ketika terjadi tsunami di Aceh kita dapat melihat begitu banyak orang terbawa arus air kotor beserta bahan-bahan bangunan. Tentu saja bahan bangunan atau barang-barang runcing cukup banyak yang hanyut dan menimbulkan luka pada kulit. Apabila luka menutup, kondisi ini menimbulkan suasana anaerob yang sangat baik untuk perkembangbiakan Cl tetani.

Pascatsunami juga terlihat banyak orang yang mengambil barang-barang bekas tanpa memakai alas kaki dan sarung tangan. Terlihat jelas bahwa orang-orang ini belum menyadari bahaya tetanus. Diperlukan penyuluhan agar mereka yang bekerja di tempat seperti reruntuhan bangunan memakai pelindung kaki dan tangan. Ancaman tetanus tampaknya masih ada pada relawan atau siapa saja yang membersihkan reruntuhan bangunan. Syukurlah, dari salah satu koran penulis melihat relawan sudah memakai sepatu bot dalam membersihkan reruntuhan bangunan.

Pembersihan luka dalam tempo singkat, pemberian antibiotika, dan (pada kondisi tertentu) tetanus immunoglobulin sangat menolong menghindarkan diri dari infeksi tetanus.

Tetanus pada hewan

Kuda merupakan jenis hewan piaraan yang paling peka terhadap infeksi tetanus. Pada hewan, gejala klinis tetanus cukup jelas seperti kekakuan pada kaki, rahang, leher, daun telinga dan ekor, lubang hidung membesar, pernapasan cepat, dan demam tinggi. Karena rahang tidak dapat dibuka (terus menutup seperti terkunci), maka peternak menyebut penyakit ini sebagai lockjaw. Apabila diraba, otot di bagian perut keras sekali seperti papan. Kekakuan secara umum (seluruh otot tubuh) ditemukan pada kuda dan ruminansia (sapi, kerbau, kambing), sedangkan kekakuan terbatas (lokal) lebih sering ditemukan pada babi dan karnivora.

Kuda dapat terserang tetanus lewat tusukan paku pada kakinya, sedangkan anak babi yang dikebiri tanpa mengindahkan higiene tertular lewat bekas irisan pada kulit buah zakar. Berbagai jenis hewan, termasuk hewan liar, juga dapat tertular tetanus lewat infeksi tali pusat saat baru lahir.

Pada umumnya pemilik memberikan informasi bahwa hewannya terkena benda tajam beberapa hari sebelum terlihat tanda kekakuan. Untuk hewan kesayangan (kuda, anjing), kasus tetanus sering masih diupayakan pengobatan dengan antibiotika, penenang (sedativa), antitoxoid serum dan pembersihan luka, meskipun biaya pengobatan cukup mahal. Sebagai tambahan, diberikan pula terapi cairan secara intra vena, atau bila memungkinkan pemberian makanan langsung ke lambung. Penderita perlu diletakkan pada ruang yang tenang dan agak gelap untuk mengurangi rangsangan cahaya.

Upaya menghindari

Pada kondisi "normal", kasus tetanus pada hewan maupun manusia relatif kecil. Rendahnya kasus tetanus erat kaitannya dengan higiene dan penyediaan fasilitas medis baik untuk manusia maupun hewan. Pada bayi telah tersedia vaksin untuk mencegah tetanus, sedangkan pada hewan vaksinasi tidak lazim dilakukan.

Hal yang paling penting agar terhindar dari tetanus adalah menjaga kebersihan. Pemakaian pelindung badan (sepatu, sarung tangan ) merupakan syarat mutlak apabila harus bekerja di tempat kotor dan banyak benda tajam. Hal ini tidak mungkin dilakukan pada hewan. Pemakaian gajah untuk membantu menyingkirkan reruntuhan bangunan, seperti dilakukan di Thailand, sebenarnya mengundang risiko bagi gajah tertular tetanus.

Beberapa orang di Indonesia memelihara monyet dengan cara mengikat bagian perut atau leher. Cara pemeliharaan seperti ini tidak saja menyiksa hewan, tetapi juga dapat menimbulkan luka pada bagian ikatan tersebut sehingga menjadi jalan masuk Cl tetani.

Meskipun kasus tetanus relatif jarang, penyediaan tetanus immunoglobulin di rumah sakit yang terpencil pun seyogianya disediakan, sehingga kejadian yang menimpa dokter hewan seperti di Karangasem tidak terulang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home